Tuesday, March 04, 2008
Artikel Bully, dimuat di www.ibuhamil.com
Belakangan ini seringkali kita dengar istilah Bullying Sebenarnya, apa sih yang disebut dengan Bullying ?Bullying berasal dari kata Bully, yaitu suatu kata yang mengacu pada pengertian adanya “ancaman” yang dilakukan seseorang terhadap orang lain (yang umumnya lebih lemah atau “rendah” dari pelaku), yang menimbulkan gangguan psikis bagi korbannya (korban disebut bully boy atau bully girl)berupa stres (yang muncul dalam bentuk gangguan fisik atau psikis, atau keduanya; misalnya susah makan, sakit fisik, ketakutan, rendah diri, depresi, cemas, dan lainnya). Apalagi Bully biasanya berlangsung dalam waktu yang lama (tahunan) sehingga sangat mungkin mempengaruhi korban secara psikis.
Sebenarnya selain perasaan-perasaan di atas, seorang korban Bully juga merasa marah dan kesal dengan kejadian yang menimpa mereka. Ada juga perasaan marah, malu dan kecewa pada diri sendiri karena “membiarkan” kejadian tersebut mereka alami. Namun mereka tak kuasa “menyelesesaikan” hal tersebut, termasuk tidak berani untuk melaporkan pelaku pada orang dewasa karena takut dicap penakut, tukang ngadu, atau bahkan disalahkan.
Dengan penekanan bahwa bully dilakukan oleh anak usia sekolah, perlu dicatat bahwa salah satu karakteristik anak usia sekolah adalah adanya egosentrisme (segala sesuatu terpusat pada dirinya) yang masih dominan. Sehingga ketika suatu kejadian menimpa dirinya, anak masih menganggap bahwa semua itu adalah karena dirinya.
Bentuk Bully terbagi dua, tindakan langsung seperti menyakiti, mengancam, atau menjelekkan anak lain. Sementara bentuk tidak langsung adalah menghasut, mendiamkan, atau mengucilkan anak lain.
Apapun bentuk Bully yang dilakukan seorang anak pada anak lain, tujuannya adalah sama, yaitu untuk “menekan” korbannya, dan mendapat kepuasan dari perlakuan tersebut. Pelaku puas melihat ketakutan, kegelisahan, dan bahkan sorot mata permusuhan dari korbannya.
Karakteristik korban Bully adalah mereka yang tidak mampu melawan atau mempertahankan dirinya dari tindakan Bully. Bully biasanya muncul di usia sekolah. Pelaku Bully memiliki karakteristik tertentu. Umumnya mereka adalah anak-anak yang berani, tidak mudah takut, dan memiliki motif dasar tertentu.
Motif utama yang biasanya ditenggarai terdapat pada pelaku Bully adalah adanya agresifitas. Padahal, ada motif lain yang juga bisa dimiliki pelaku Bully, yaitu rasa rendah diri dan kecemasan. Bully menjadi bentuk pertahanan diri (defence mechanism) yang digunakan pelaku untuk menutupi perasaan rendah diri dan kecemasannya tersebut. “Keberhasilan” pelaku melakukan tindakan bully bukan tak mungkin berlanjut ke bentuk kekerasan lainnya, bahkan yang lebih dramatis.
Ada yang menarik dari karakteristik pelaku dan korban Bully. Korban Bully mungkin memiliki karakteristik yang bukan pemberani, memiliki rasa cemas, rasa takut, rendah diri, yang kesemuanya itu (masing- masing atau sekaligus) membuat si anak menjadi korban Bully. Akibat mendapat perlakuan ini, korban pun mungkin sekali menyimpan dendam atas perlakuan yang ia alami. Selanjutnya, bukan tak mungkin, korban Bully, menjadi pelaku Bully pada anak lain yang ia pandang sesuai dengan tujuannya, yaitu untuk mendapat kepuasan dan membalaskan dendam. Ada proses belajar yang sudah ia jalani dan ada dendam yang tak terselesaikan. Kasus di sekolah-sekolah, dimana kakak kelas melakukan Bully pada adik kelas, dan kemudian Bully berlanjut ketika si adik kelas sudah menjadi kakak kelas dan ia kemudian melakukan Bully pada adik kelasnya yang baru, adalah contoh dari pola Bully yang dijelaskan di atas.
Tindakan Bullying bisa terjadi dimana saja, terutama tempat-tempat yang tidak diawasi oleh guru atau orang dewasa lainnya. Pelaku akan memanfaatkan tempat yang sepi untuk menunjukkan “kekuasaannya” atas anak lain, agar tujuannya tercapai. Sekitar toilet sekolah, pekarangan sekolah, tempat menunggu kendaraan umum, lapangan parkir, bahkan mobil jemputan dapat menjadi tempat terjadinya Bullying. Sebagai orang tua, kita wajib waspada akan adanya perilaku bullying pada anak, baik anak sebagai korban atau sebagai pelaku.
Beberapa hal yang dapat dicermati dalam kasus Bullying adalah :
A.Anak Menjadi Korban
Tanda-tanda :
1.Munculnya keluhan atau perubahan perilaku atau emosi anak akibat stres yang ia hadapi karena mengalami perilaku bullying (anak sebagai korban).
2. Laporan dari guru atau teman atau pengasuh anak mengenai tindakan bullying yang terjadi pada anak.
Penanganan :
1. Usahakan mendapat kejelasan mengenai apa yang terjadi. Tekankan bahwa kejadian tersebut bukan kesalahannya.
2. Bantu anak mengatasi ketidaknyamanan yang ia rasakan, jelaskan apa yang terjadi dan mengapa hal itu terjadi. Pastikan anda menerangkan dalam bahasa sederhana dan mudah dimengerti anak.JANGAN PERNAH MENYALAHKAN ANAK atas tindakan bullying yang ia alami.
3. Mintalah bantuan pihak ketiga (guru atau ahli profesional) untuk membantu mengembalikan anak ke kondisi normal, jika dirasakan perlu. Untuk itu bukalah mata dan hati Anda sebagai orang tua. Jangan tabu untuk mendengarkan masukan pihak lain.
4. Amati perilaku dan emosi anak anda, bahkan ketika kejadian bully yang ia alami sudah lama berlalu (ingat bahwa biasanya korban menyimpan dendam dan potensial menjadi pelaku di kemudian waktu). Bekerja samalah dengan pihak sekolah (guru). Mintalah mereka membantu dan mengamati bila ada perubahan emosi atau fisik anak anda. Waspadai perbedaan ekspresi agresi yang berbeda yang ditunjukkan anak anda di rumah dan di sekolah (ada atau tidak ada orang tua / guru / pengasuh).
5. Binalah kedekatan dengan teman-teman anak anda. Cermati cerita mereka tentang anak anda. Waspadai perubahan atau perilaku yang tidak biasa.
6. Minta bantuan pihak ke tiga (guru atau ahli profesional) untuk menangani pelaku.
Pencegahan :
1. Bekali anak dengan kemampuan untuk membela dirinya sendiri, terutama ketika tidak ada orang dewasa / guru / orang tua yang berada di dekatnya. Ini berguna untuk pertahanan diri anak dalam segala situasi mengancam atau berbahaya, tidak saja dalam kasus bullying. Pertahanan diri ini dapat berbentuk fisik dan psikis.
a. Pertahanan diri Fisik : bela diri, berenang, kemampuan motorik yang baik (bersepeda, berlari), kesehatan yang prima.
b. Pertahanan diri Psikis : rasa percaya diri, berani, berakal sehat, kemampuan analisa sederhana, kemampuan melihat situasi (sederhana), kemampuan menyelesaikan masalah.
2.Bekali anak dengan kemampuan menghadapi beragam situasi tidak menyenangkan yang mungkin ia alami dalam kehidupannya. Untuk itu, selain kemampuan mempertahankan diri secara psikis seperti yang dijelaskan di no. 1a. Maka yang diperlukan adalah kemampuan anak untuk bertoleransi terhadap beragam kejadian. Sesekali membiarkan (namun tetap mendampingi) anak merasakan kekecewaan, akan melatih toleransi dirinya.
3.Walau anak sudah diajarkan untuk mempertahankan diri dan dibekali kemampuan agar tidak menjadi korban tindak kekerasan, tetap beritahukan anak kemana ia dapat melaporkan atau meminta pertolongan atas tindakan kekerasan yang ia alami (bukan saja bullying). Terutama tindakan yang tidak dapat ia tangani atau tindakan yang terus berlangsung walau sudah diupayakan untuk tidak terulang.
4. Upayakan anak mempunyai kemampuan sosialisasi yang baik dengan sebaya atau dengan orang yang lebih tua. Dengan banyak berteman, diharapkan anak tidak terpilih menjadi korban bullying karena :
a. Kemungkinan ia sendiri berteman dengan pelaku, tanpa sadar bahwa temannya pelaku bullying pada teman lainnya.
b. Kemungkinan pelaku enggan memilih anak sebagai korban karena si anak memiliki banyak teman yang mungkin sekali akan membela si anak.
c. Sosialisasi yang baik dengan orang yang lebih tua, guru atau pengasuh atau lainnya, akan memudahkan anak ketika ia mengadukan tindakan kekerasan yang ia alami.
B. Anak sebagai Pelaku
Tanda-tanda :
1. Anak bersikap agresif, terutama pada mereka yang lebih muda usianya, atau lebih kecil atau mereka yang tidak berdaya (binatang, tanaman, mainan).
2. Anak tidak menampilkan emosi negatifnya pada orang yang lebih tua / lebih besar badannya / lebih berkuasa, namun terlihat anak sebenarnya memiliki perasaan tidak senang.
3. Sesekali anak bersikap agresif yang berbeda ketika bersama anda.
4. Melakukan tindakan agresif yang berbeda ketika tidak bersama anda (diketahui dari laporan guru, pengasuh, atau teman-teman).
5. Ada laporan dari guru / pengasuh / teman-temannya bahwa anak melakukan tindakan agresif pada mereka yang lebih lemah atau tidak berdaya (no. 1).
6. Anak yang pernah mengalami bully mungkin menjadi pelaku bully.
Penanganan :
1. Segera ajak anak bicara mengenai apa yang ia lakukan. Jelaskan bahwa tindakannya merugikan diri dan orang lain. Upayakan
2. Cari penyebab anak melakukan hal tersebut. Penyebab menjadi penentu penanganan. Anak yang menjadi pelaku karena rasa rendah diri tentu akan ditangani secara berbeda dengan pelaku yang disebabkan oleh dendam karena pernah menjadi korban.Demikian juga bila pelaku disebabkan oleh agresifitasnya yang berbeda.
3. Posisikan diri untuk menolong anak dan bukan menghakimi anak.
Pencegahan :
1. Anak dapat menjadi pelaku bullying antara lain bila si anak mengalami rasa rendah diri. Karena itu, upayakan untuk mendidik anak dalam suasana penuh kasih sayang yang mendidik anak untuk memiliki kebanggaan pada dirinya sendiri. Kasih sayang yang nyata juga membuat anak merasa aman dan cenderung lebih mau bekerja sama dengan orang tua / guru. Namun hati-hati jangan sampai memanjakan anak yang berdampak kerugian di pihak anak.
2. Waspada jika anak menunjukkan agresifitas yang berlebihan, terutama pada mereka yang lebih lemah (adiknya, pengasuh, teman bermain yang lebih kecil atau pendek badannya) atau bahkan binatang, tanaman dan mainannya.
3. Jika anak anda pernah menjadi korban bully, untuk mencegah ia menjadi pelaku bullying di kemudian hari, mintalah bantuan ahlinya agar masalah terselesaikan dengan baik dan tidak ada dendam di kemudian hari. Amati perilaku dan kondisi emosi anak dari waktu ke waktu, bahkan ketika kejadian bully yang ia alami sudah lama berlalu.
4. Usahakan selalu bersikap terbuka dan rajin berdiskusi dengan anak tentang berbagai hal. Selalu siap memberi komentar positif dan hindari menghakimi anak.Namun jangan sampai “mencelakakan” anak dengan memanjakan anak berlebihan.
Tulisan ini diharapkan cukup memberi gambaran mengenai bullying, bahayanya dan cara-cara penanganan dan pencegahan yang praktis untuk dilakukan. Dan karena itu STOP BULLYING!
____________
ps: Mba Yayi, thx...

Labels: ,

Sunday, August 05, 2007
Di Femina yang dulu
BIGAU,dimuat di femina edisi 2-8 Maret 2006, rubrik gado-gado

Istilah bigau kudapat dari suami. Asal mulanya karena suami termasuk orang yang sangat minim mengadakan “kontak” dengan Pembantu Rumah Tangga (PRT). Maklum, segala kebutuhannya harus melalui tanganku. Masuk akal, dia tidak pernah ingat nama pembantu kami. Untuk gampangnya, semua pembantu dia sebut saja Bigau. Entah sebutan dari mana. Padahal andai dia mau berusaha sedikit, nama pembantu kami lumayan bagus-bagus lho.. ada Anita, Amelia, Triana, Rini dll.

Pembantunya kakak saya lebih hebat lagi, namanya Rosalinda dan Selina. Berhubung mereka diambil dari yayasan, kami yakin sekali nama mereka sudah diupgrade dari nama aslinya. Mungkin sebentar lagi ada bigau bernama Maria Mercedes!

Nah, perkara bigau rasanya tak ada habisnya. Seorang temanku, selama 5 tahun perkawinan sudah ganti bigau sebanyak 23 kali.

Ada yang ternyata suka mencuri dan pembohong (waktu interview mengaku sudah bisa masak karena pengalaman satu tahun membantu koki di restoran cina, ternyata, tumis tahu tauge pun tak bisa dimakan!), ada yang lebih galak dari majikannya, dan segudang masalah lain. Masalah lebih “seram” datang dari bigau-nya teman SMA-ku. Sejak awal ia sudah curiga dengan si calon bigau. Sebut saja Juminten. Sebagai bigau, pakaian Juminten terlalu seronok dan sikapnya luar biasa centil terhadap para pekerja bangunan di depan rumah temanku. Belum sampai tiga hari, Juminten sudah berani minta ijin untuk jalan-jalan dengan salah seorang tukang. Suatu hari, ketika Juminten minta ijin ke warung, temanku menyelinap ke kamarnya. Dan ditemukanlah buku berisi data-data beberapa pria (mulai alamat, no. HP sampai ukuran baju dan celana), foto-foto, alat kontrasepsi, dan sebuah buku rapalan untuk memikat pria, beserta sebungkus kain putih berisi bunga-bunga kering. Kontan saat itu juga temanku memanggil Ketua RT dan Hansip untuk temuannya. Temanku takut, jika sampai terjadi sesuatu (misalnya si Juminten hamil), suami atau anak remaja prianya yang disalahkan. Tapi, ada juga kisah bigau yang jempolan dan menyentuh. Sarmila atau aslinya Sarmiyem misalnya. Pembantuku ini diambil dari penampungan TKI. Sambil menunggu keberangkatan ke negara tujuan, Sarmiyem di”training”kan di rumahku. Mendengar istilah empunya penampungan, aku sempat gentar juga. Wah, sudah ya bigau ini tidak akan lama di rumah (maksimal 3 bulan), aku harus men”training” dia pula!Tak sampai tiga hari Iyem bersamaku, jatuh hati aku dibuatnya. Walau tak tamat SD, Iyem cukup cepat mengerti dan menghafal urutan pekerjaannya. Ia juga bebas buta huruf (ia sering kubantu menghafal dan melafalkan bahasa Inggris). Dari subuh hingga maghrib bekerja tak henti, pun ketika kuminta untuk beristirahat. Ada saja pekerjaan yang dilakukan. Bayangkan, suatu hari, semua pekerjaan rutin sudah beres, suasana dalam rumahku lengang. Ketika kucari-cari, hah, ternyata ia sedang mencuci pagar rumah! Ck..ck… sementara bigau sebelumnya harus selalu diingatkan untuk bekerja, bigau Iyem malah mencari pekerjaan, ketika bigau yang lain cemberut diminta mengerjakan pekerjaannya, Iyem tetap menebar senyum! Suatu hari, meluncurlah cerita dari bibir Iyem. Sebagai anak yatim dengan sebelas saudara, mau tak mau Iyem harus turut membantu beban ibunya menghidupi keluarga. Dalam keluarganya ada empat orang (termasuk dirinya dan ibunya) yang bekerja sebagai PRT. Seorang kakaknya bahkan “hilang” ditelan kejamnya ibukota, tiga tahun lalu. Enam bulan sejak ditinggal Iyem merantau, aku mendapat sepucuk surat berperangko asing. Isinya kertas bergaris dengan tulisan tangan yang berantakan serta sebuah foto. Kuamati cukup lama, di sana, tampak Iyem berpose dengan celana jins dan kaus merah yang sudah pudar, di depan sebuah rumah yang tampak cukup besar dan terawat. Wajahnya tampak tersenyum cerah namun tubuhnya tampak agak lebih kurus. “Der(1) Ndoro Putri(2), Sori(3) Iyem baru mengirim surat sekarang. Iyem baik-baik dan sehat di sini. Ini foto Iyem di depan rumah ndoro Iyem sekarang. Mereka baik…bla3x..Ibu dan Bapak bagaimana di sana…? Siapa yang bantu Ibu ? Aku sudah pesan lho Bu sama yayasan, supaya Ibu dikasih meit(4) yang baik dan bagus.Ibu, Iyem kangen sama Ibu… mbok ya Iyem ini ditengok gitu. Sudah ya Bu. Nanti Iyem kirim surat lagi. 4 x 4 = 16, sempat tidak sempat harap dibalas!”Surat sepanjang dua halaman itu aku lipat dengan senyum mengembang . Iyem bercerita bahwa majikannya yang baru baik dan ia diberi kesempatan untuk belajar menjahit. Ia juga dengan bangga menunjukkan kemajuannya dalam berbahasa Inggris dengan mengirimiku surat dalam bahasa campur aduk (meski dengan ejaan yang salah). Yem, Yem.. walau sepeninggal Iyem aku belum mendapatkan pengganti yang seunik dia, tapi aku rela kok engkau pergi. Apalagi setelah tahu dia mendapat tempat yang menyenangkan dan memungkinkan dia mengembangkan diri. Gut Lak Yem!

Ket :1. Der = Dear2. Ndoro Putri = sebutan untuk majikan wanita dalam bahasa Jawa 3. Sori = sorry4. Meit = Maid = PRT(By Dianibung : 0304)

Labels: , ,

Gado-gado, Blog IRT
Dimuat di Femina, no.32, 9 - 15 Agustus 2007

BLOG IRT
Sejak mempunyai anak, saya mengurangi, bahkan kemudian berhenti bekerja. Seiring dengan itu, kegiatan kongkow-kongkow dengan teman menjadi jauh sekali berkurang, kalau tidak dapat dikatakan betul-betul hanya sesekali. Bukan saja saya yang sibuk mengurus anak dan pekerjaan rumah tangga lainnnya (yang ternyata, aduh, bisa seperti tidak ada akhirnya), tapi juga karena teman-teman “seangkatan” rata-rata sedang sibuk hamil, melahirkan, atau mengurus anak seperti saya atau yang lainnya sibuk mengejar karir.
Saya dan teman-teman “kangen” bertegur sapa. Apalagi, ternyata berdiam di rumah tanpa ada partner yang bisa diajak berbincang dengan layak, lambat laun bikin stress juga. Para suami tidak dihitung karena suami saya atau teman-teman, rata-rata berangkat di pagi hari dan pulang malam hari. Tepat betul dengan waktu di mana biasanya kami, para ibu rumah tangga- sedang sibuk mengurus ini itu, atau justru sedang tertidur kelelahan setelah berkutat dengan segalatetek bengek rumah tangga, hahaha.
Maka, kemudian kami merubah pola komunikasi kami melalui email. Sehingga kami masih dapat saling mengirim kabar di sela-sela waktu luang kami. Bahkan, kemudian, kami membuat mailing list (milist). Ada milist almamater SMA, universitas, sehobi, dan milis khusus IRT. Akibatnya sungguh positif. Bukan saja pertemanan dengan kawan lama terjaga, kami bahkan mendapat banyak kawan baru yang nyata tapi maya. Bahkan, jika beruntung memiliki waktu luang yang sama, kami bahkan bisa ngobrol langsung dengan memanfaatkan fasilitas chating. Ini jelas jauh lebih murah dibanding lewat telepon, dan pastilah juga jauh lebih irit dibandingkan bila kami kopi darat karena umumnya jarak kami, para chatters ini, berjauhan. Beda kota, beda propinsi, bahkan beda negara.
Cuma, ya itu tadi….namanya juga milist IRT, topic obrolan pun apalagi kalau bukan soal anak dan masak memasak. Termasuk cerita heboh tentang “musibah” yang menimpa, Nina, pengantin baru yang merantau jauh ke negeri paman Sam. Ia sedang mempraktikkan cara membuat rendang dengan Bulan, salah satu anggota milis, sebagai mentor jarak jauhnya. Mendadak, bleb…! Kawasan tempat tinggal Bulan kebagian mati listrik. Padahal, nun jauh di sana, Nina baru saja memulai mengolah menu. Gagallah rendang terhidang.
Belakangan, arus email kami mulai lambat, kecuali utnuk membahas hal-hal penting saja. Kami lebih senang saling “mengunjungi” dan mengobrol lewat blog yang kami rasa lebih fleksibel dan asyik. Bayangkan! ketika jam “bebas tugas’ menjelang tengah malam, sementara saya belum juga dapat tidur, saya masih bisa bebas berkunjung ke “rumah” Nina, Bulan, Dina, dan lainnya tanpa takut mengganggu mereka.
Boleh dibilang blog menjadi wadah bagi kami untuk bertukar kisah, berbagi kabar, berkenalan (dan dikenal) orang lain. Blog seperti rumah kami. Bahkan ketika saya mulai melirik profesi penulis, blog menjadi semacam portfolio saya kepada para penerbit.
Tapi saya sempat minder tidak mempublikasikan blog saya pada teman-teman karena blog saya sangat sederhana. Hanya memanfaatkan template (lembar hias )gratisan Bahkan, ketika kemudian saya mulai bisa “pasang” segala asesoris diblog, saya tetap saja tertinggal oleh blog ibu-ibu lain yang –ternyata- canggih-canggih menghias blognya.
Akhirnya, dengan alasan – mendingan waktunya saya pakai untuk update isi blog daripada mengehiasnya- saya pun memanfaatkan jasa desainer web professional untuk me-redecor blog saya.Hebat kan ? Dan jangan salah, make over blog saya dilakukan secara online, melalui email dan chating karena Ria, disainer saya itu tinggal di Mesir sementara saya di Bogor, hahaha!

Labels: , ,