Istilah bigau kudapat dari suami. Asal mulanya karena suami termasuk orang yang sangat minim mengadakan “kontak” dengan Pembantu Rumah Tangga (PRT). Maklum, segala kebutuhannya harus melalui tanganku. Masuk akal, dia tidak pernah ingat nama pembantu kami. Untuk gampangnya, semua pembantu dia sebut saja Bigau. Entah sebutan dari mana. Padahal andai dia mau berusaha sedikit, nama pembantu kami lumayan bagus-bagus lho.. ada Anita, Amelia, Triana, Rini dll.
Pembantunya kakak saya lebih hebat lagi, namanya Rosalinda dan Selina. Berhubung mereka diambil dari yayasan, kami yakin sekali nama mereka sudah diupgrade dari nama aslinya. Mungkin sebentar lagi ada bigau bernama Maria Mercedes!
Nah, perkara bigau rasanya tak ada habisnya. Seorang temanku, selama 5 tahun perkawinan sudah ganti bigau sebanyak 23 kali.
Ada yang ternyata suka mencuri dan pembohong (waktu interview mengaku sudah bisa masak karena pengalaman satu tahun membantu koki di restoran cina, ternyata, tumis tahu tauge pun tak bisa dimakan!), ada yang lebih galak dari majikannya, dan segudang masalah lain. Masalah lebih “seram” datang dari bigau-nya teman SMA-ku. Sejak awal ia sudah curiga dengan si calon bigau. Sebut saja Juminten. Sebagai bigau, pakaian Juminten terlalu seronok dan sikapnya luar biasa centil terhadap para pekerja bangunan di depan rumah temanku. Belum sampai tiga hari, Juminten sudah berani minta ijin untuk jalan-jalan dengan salah seorang tukang. Suatu hari, ketika Juminten minta ijin ke warung, temanku menyelinap ke kamarnya. Dan ditemukanlah buku berisi data-data beberapa pria (mulai alamat, no. HP sampai ukuran baju dan celana), foto-foto, alat kontrasepsi, dan sebuah buku rapalan untuk memikat pria, beserta sebungkus kain putih berisi bunga-bunga kering. Kontan saat itu juga temanku memanggil Ketua RT dan Hansip untuk temuannya. Temanku takut, jika sampai terjadi sesuatu (misalnya si Juminten hamil), suami atau anak remaja prianya yang disalahkan. Tapi, ada juga kisah bigau yang jempolan dan menyentuh. Sarmila atau aslinya Sarmiyem misalnya. Pembantuku ini diambil dari penampungan TKI. Sambil menunggu keberangkatan ke negara tujuan, Sarmiyem di”training”kan di rumahku. Mendengar istilah empunya penampungan, aku sempat gentar juga. Wah, sudah ya bigau ini tidak akan lama di rumah (maksimal 3 bulan), aku harus men”training” dia pula!Tak sampai tiga hari Iyem bersamaku, jatuh hati aku dibuatnya. Walau tak tamat SD, Iyem cukup cepat mengerti dan menghafal urutan pekerjaannya. Ia juga bebas buta huruf (ia sering kubantu menghafal dan melafalkan bahasa Inggris). Dari subuh hingga maghrib bekerja tak henti, pun ketika kuminta untuk beristirahat. Ada saja pekerjaan yang dilakukan. Bayangkan, suatu hari, semua pekerjaan rutin sudah beres, suasana dalam rumahku lengang. Ketika kucari-cari, hah, ternyata ia sedang mencuci pagar rumah! Ck..ck… sementara bigau sebelumnya harus selalu diingatkan untuk bekerja, bigau Iyem malah mencari pekerjaan, ketika bigau yang lain cemberut diminta mengerjakan pekerjaannya, Iyem tetap menebar senyum! Suatu hari, meluncurlah cerita dari bibir Iyem. Sebagai anak yatim dengan sebelas saudara, mau tak mau Iyem harus turut membantu beban ibunya menghidupi keluarga. Dalam keluarganya ada empat orang (termasuk dirinya dan ibunya) yang bekerja sebagai PRT. Seorang kakaknya bahkan “hilang” ditelan kejamnya ibukota, tiga tahun lalu. Enam bulan sejak ditinggal Iyem merantau, aku mendapat sepucuk surat berperangko asing. Isinya kertas bergaris dengan tulisan tangan yang berantakan serta sebuah foto. Kuamati cukup lama, di sana, tampak Iyem berpose dengan celana jins dan kaus merah yang sudah pudar, di depan sebuah rumah yang tampak cukup besar dan terawat. Wajahnya tampak tersenyum cerah namun tubuhnya tampak agak lebih kurus. “Der(1) Ndoro Putri(2), Sori(3) Iyem baru mengirim surat sekarang. Iyem baik-baik dan sehat di sini. Ini foto Iyem di depan rumah ndoro Iyem sekarang. Mereka baik…bla3x..Ibu dan Bapak bagaimana di sana…? Siapa yang bantu Ibu ? Aku sudah pesan lho Bu sama yayasan, supaya Ibu dikasih meit(4) yang baik dan bagus.Ibu, Iyem kangen sama Ibu… mbok ya Iyem ini ditengok gitu. Sudah ya Bu. Nanti Iyem kirim surat lagi. 4 x 4 = 16, sempat tidak sempat harap dibalas!”Surat sepanjang dua halaman itu aku lipat dengan senyum mengembang . Iyem bercerita bahwa majikannya yang baru baik dan ia diberi kesempatan untuk belajar menjahit. Ia juga dengan bangga menunjukkan kemajuannya dalam berbahasa Inggris dengan mengirimiku surat dalam bahasa campur aduk (meski dengan ejaan yang salah). Yem, Yem.. walau sepeninggal Iyem aku belum mendapatkan pengganti yang seunik dia, tapi aku rela kok engkau pergi. Apalagi setelah tahu dia mendapat tempat yang menyenangkan dan memungkinkan dia mengembangkan diri. Gut Lak Yem!
Ket :1. Der = Dear2. Ndoro Putri = sebutan untuk majikan wanita dalam bahasa Jawa 3. Sori = sorry4. Meit = Maid = PRT(By Dianibung : 0304)
Labels: Gado-gado, media, tulis menulis

0 Comments:
Post a Comment
<< Home