Monday, February 12, 2007
Cerita Ringan setengah Fiksi : BAPAK
Cerita ringan setengah fiksi : BAPAK

Bapakku berumur 66 tahun. Sudah enam tahun ini Bapak menjadi pensiunan pegawai negeri. Walau Bapak mantan pejabat negara (golongan Bapak ketika pensiun adalah 4E), tapi kehidupan Bapak pasca pensiun jauh dari dunia bisnis seperti rekan-rekan seangkatannya. Kegiatan Bapak semenjak itu ya seputar kami ini ,keluarganya.
Alhamdullillah, Bapak, Ibu, juga kami para anak menantu dan cucu, tak hidup kekurangan dan dalam kebahagiaan Sebenarnya, Bapak tidak berhenti kerja secara total sejak menyandang predikat pensiunan. Bapak masih menjadi dosen luar biasa untuk universitas terkemuka di kotanya. Suatu hari, sepulang kampus, Bapak menghampiri teh Ita, kakakku yang tertua dan sedang mengandung tujuh bulan. “Ta, tadi Bapak nguji mahasiswa ujian lisan, ada yang seperti kamu, sedang hamil” Bapak berhenti sebentar untuk menyeruput kopi panasnya. Kemudian Bapak melanjutkan,” Setelah mahasiswinya duduk, Bapak tanya, kamu sudah belajar buat ujian ini ? Dia jawab sudah Pak… ya sudah, Bapak bilang aja kamu lulus”. “Ha? Bapak ga’ nanya-nanya sama sekali ? Lulus begitu aja ? “.Kakakku memandang Bapak tak percaya.“ Iya, abis Bapak kasian sih… Lagi pula, kalau dia sudah berani datang untuk ujian lisan, pasti dia sudah belajar kan malamnya!”. “ Bapak ngebayangin kamu Ta… malam-malam belajar sambil hamil begitu…” Jawab Bapak sambil melenggang masuk kamar.
Duh enaknya jadi murid Bapak! Ga’ sangka lho Bapak sebagai dosen bisa bersikap begitu “lunak”. Soalnya dulu Bapak terkenal “angker” sebagai pimpinan
Sikapnya tegas dan tanpa kompromi pada peraturan yang sudah menjadi prinsipnya.Satu lagi hobi Bapak yang kambuh kembali setelah pensiun adalah main gapleh! Untungnya Bapak punya tiga menantu laki-laki. Jadi tiga menantu ditambah Bapak sendiri, pas jumlahnya untuk bermain gapleh. Jangan salah, pertandingan gapleh ini dilakoni serius oleh Bapak, suami dan ipar-iparku. Biasanya pertandingan berakhir pada saat adzan subuh.
Suatu hari, suamiku sudah masuk kamar pukul dua dinihari. “Kok sudah selesai gaplehnya ?”, tanyaku sambil mengantuk. Suamiku menjawab sambil tak kalah mengantuknya,” Iya…tadi aku sama mas Diki (salah satu iparku) ngalah aja …biar Bapak menang terus. Jadi cepat selesai kan mainnya!”. Oh, jadi selama ini , kalau permainan baru berakhir subuh, berarti Bapak kalah terus. Nunggu Bapak menang rupanya. Para menantu, tak ada yang berani menghentikan permainan terang-terangan. Karena itu suami dan iparku berinisiatif mengalah. Berhasil juga taktik para menantu.
Di waktu lain, ketika seluruh keluarga besar berkumpul, Bapak berceramah mengenai makanan dan minuman yang halal dan haram. Dengan serius, Bapak mengatakan bahwa semua yang mengandung “rhum (bahan minuman beralkohol)” adalah haram. Termasuk “vla” (saus) puding buatan Ibu yang luar biasa nikmatnya. Bapak menyarankan untuk tidak lagi mengkomsumsi “rhum” dalam bentuk apapun. Satu persatu dari kami mulai protes. Bukannya apa-apa, menurut kami “vla” buatan Ibu berkurang nikmatnya bila tak dibubuhi “rhum”. Selain itu, kadar “rhum” dalam “vla” Ibu sangatlah jauh dari kemungkinan memabukkan.
Seorang keponakanku nyeletuk,” Aki (kakek dalam bahasa sunda), kalau coklat yang pakai “rhum” bagaimana ? “ dia tentu ingat bahwa Akinya suka coklat mengandung rhum tersebut. Bapak, dengan yakin menjawab,” Tidak boleh “.“Kalau kue coklat toko Biru Pak,” tanya kakak iparku. Tentu dia juga ingat bahwa Bapak suka sekali kue coklat tersebut”. Masih dengan yakin Bapak menjawab,” Ya itu juga tidak boleh”.Setelah beberapa nama makanan dan minuman disebutkan oleh kami bergantian, Bapak tetap konsisten menjawab tidak boleh.Tiba-tiba, seorang anakku bertanya dengan suara cukup lantang,” Aki….
Kalau es krim kesukaan Aki itu… katanya ada “rhum”nya… itu juga tidak boleh ya Ki ?”. Kami, yang besar-besar memandang Bapak dengan harap-harap cemas. Kami sadar betul bahwa “ice cream rhum raisin” adalah favorit Bapak selama ini. Kulihat Bapak terdiam sebentar…lalu dengan ragu dan enggan Bapak menjawab, “ Yah….itu boleh ya…,kan Cuma sedikit rhumnya…banyakan es krimnya”.
Sambil menahan tawa aku bertanya,” Pak, di pengajian kemarin dibahas tentang halal dan haram ya ?”. Terus terang saja aku sedikit heran. Kukenal Bapak sebagai orang yang agak moderat. Jadi, kucurigai informasi di atas adalah hasil pengajian yang kudengar cukup sering diikuti Bapak belakangan ini.“ Pengajian yang mana ?” tanya Bapak. Aku membatin dalam hati.
Lha Bapak ini, baru kemarin pengajian kok sudah lupa.“ Yang kemarin Pak, yang di rumah om Muchlis”, jawabku berusaha mengingatkan Bapak. Dari sudut mata kulihat Ibu dan kakak-kakakku mengulum senyum. Wah apalagi nih, pikirku.Kening Bapak tampak berkerut sebentar, untuk kemudian tertawa.” Neng, itu mah pengajian spesial. Pengajian Bapak dengan teman-teman Bapak beda dengan pengajian biasanya”, jawab Bapak sambil terus tertawa.
Ternyata Bapak cuma meminjam istilah untuk kegiatan rutin seminggu sekali yang dimilikinya bersama teman-teman sesama pensiunan. Pengajian Bapak dan “gank”nya jauh dari bayanganku. Maklum, aku tak tinggal sekota dengan Bapak. Jadi selama ini aku hanya mendengar selentingan kegiatan ini, tak pernah memergokinya. Mau tahu aktivitas apa yang dilakukan Bapak ketika “pengajian” ?Bertanding Gapleh!!Katanya Bapak dan teman-temannya tak sampai hati meminta ijin pada para istri untuk bermain gapleh seminggu sekali. Supaya lebih halus, tercetuslah kata-kata tersebut. Duh Bapak, ada- ada saja deh, kamuflasenya kok pengajian.
Apa ga’ takut tertukar kostum ya?
(dedicated to my loving Dad)
Saturday, February 10, 2007
Ketika mengingatmu
Adalah hati ini
Yang tak mampu acuhkan
Rasa perih
Karena kehilangan dirimu

Adalah hati ini
Yang menangis
Merindukan
Kehadiranmu

Adalah hati ini
Yang ingin
Kembali bersamamu

Tertawa, Bercanda
Serius, bertukar kata

Adalah hati ini
Yang tak mampu acuhkan
Ketiadaanmu

ketika mengingatmu -feb 0607

Mengenang seorang teman yang sudah tiada