Tuesday, April 10, 2007
Perfectionist, dimuat di Parenting Indonesia edisi April 2007
Non Fiction, Published on Parenting Magazine, April 2007, Rubrik Refleksi
PERFECTIONIST
Saya bukan tipe orang yang biasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Namun, saya juga orang yang cenderung perfectionist untuk segala hal. Maka, dapat dibayangkan, ketika saya berumahtangga dan harus mengurus berbagai pekerjaan rumah tangga sendiri, saya merasa sangat repot. Pertama, tentu saja saya merasa repot dalam mengatur waktu. Walau sejak menikah saya memutuskan untuk tidak bekerja full time tapi, saya sudah cukup repot mengatur waktu memasak, mencuci, menyapu dan mengepel yang rasanya tak habis-habis, dengan kegiatan lain yang ingin saya lakukan. Waktu itu, sebagai seorang perfectionist sejati, saya mengharuskan diri untuk setiap hari mencuci baju, membersihkan seluruh rumah (lantai atas dan bawah, ketiga kamar, dan ke dua kamar mandi) – mulai dari menyapu mengepel dan mengelap, serta tentu saja memasak.Kedua, saya repot karena mengharuskan diri melakukan semua itu secara sempurna, sementara saya tak (belum) mampu melakukannya dengan sempurna. Dalam sehari saya bisa menyapu atau mengepel berkali-kali, karena tak tahan jika (kembali) kotoran di lantai rumah saya yang putih mengilat, akibat daun yang tertiup angin atau lainnya. Atau saya mengelap meja berkali-kali karena ada tumpahan air atau sisa makanan yang jatuh dari tempatnya. Paling parah, saya bisa tak berhenti menyetrika pakaian karena memang saya tak mampu menyetrika dengan baik. Bagian depan kemeja sudah rapih, tapi belakangnya kusut. Saya balik bagian belakang, bagian depan kusut.

Maka, kemudian saya memutuskan untuk mengambil pembantu rumah tangga. Tapi muncul masalah lain. Saya menuntut pembantu tersebut untuk bekerja sesempurna keinginan saya. Sudah tentu ini sulit untuk dipenuhi. Akibatnya jelas, saya jarang memiliki pembantu yang awet.

Ketika kemudian saya mempunyai anak, Arka, keadaan rumah tangga saya masih seperti itu. Bahkan bertambah parah. Karena saya menuntut kebersihan yang luar biasa untuk semua barang-barang bayi Arka. Mulai dari pakaian, selimut, mainan, tempat tidur, bak mandi, dan tentu saja botol susu dan peralatan makannya. Walau kemudian saya mengambil baby sitter , tapi pembuatan makanan anak saya tetap saya sendiri yang memegang. Tampaknya sifat saya bukan saja perfectionist tapi sudah menjalar menjadi tidak percaya pada orang lain. Jadi, walau ada pembantu ataupun baby sitter saya tetap kelelahan. Bukan saja karena mengurus bayi, yang jelas-jelas membutuhkan tenaga dan perhatian ekstra, tapi juga karena sibuk menjaga standar pekerjaan yang harus dilaksanakan dalam rumah tangga saya.

Seiring perkembanganArka, saya tak lagi menggunakan jasa baby sitter. Demikian juga pembantu rumah tangga. Saya mulai jenuh harus mengajari dan mengawasi para PRT yang datang silih berganti. Bahkan ketika saya mulai melonggarkan peraturan kesempurnaan yang tadinya saya pertahankan, tetap saja mereka datang dan pergi. Belakangan saya mulai menyadari, bahwa masalah PRT ini tidak saja dialami oleh saya, tapi oleh hampir sebagian besar teman-teman dan saudara saya. Bahkan oleh mereka yang tidak mempunyai standar pekerjaan seperti saya.

Akhirnya, saya hanya memanfaatkan jasa PRT untuk “pekerjaan berat”, seperti mencuci dan menyetrika, serta menyapu, mengepel dan menyikat kamar mandi di pagi hari. Kemudian ia boleh pulang. Sisa hari sampai keesokan paginya lagi, saya berdua saja dengan Arka yang saat itu sudah berusia sekitar 2(dua) tahun lebih.

Hanya berdua dengan anak di rumah, dengan kegiatan rumah tangga yang berjalan seperti biasa, tentu memberi efek berbeda dan baru bagi saya dan Arka. Hari-hari pertama, tentu saya kebingungan antara harus menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, dengan mengasuh Arka. Selain itu, saya juga membutuhkan waktu untuk berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaan saya menulis berbagai cerita anak atau artikel lainnya. Dan tentu saja, saya pun membutuhkan waktu untuk bersantai. Minggu pertama adalah minggu terberat. Arka telat sarapan karena harus menunggu saya memasak (dan dapur menjadi sangat kotor dan berantakan karena saya tidak bisa mengupas wortel dengan rapih, dan menggunakan hampir semua pisau, sendok dan perlatan dapur lain hanya untuk memasak makanan sederhana), Arka telat minum susu pagi karena menunggu saya mandi, sementara saya harus membereskan dapur dahulu.Ini adalah sisa ke-perfectionis-an saya. Arka ribut mencari saya ketika ia ingin bermain, sementara saya sedang mencuci botol-botol susunya. Atau saya yang hilang konsentrasi ketika sedang menulis, dan tiba-tiba Arka terbangun dari tidur siangnya dan menangis. Juga suami yang tak lagi ditemani oleh saya ketika ia pulang kantor malam-malam, sementara saya sudah kelelahan setelah seharian berkutat dengan pekerjaan rumah tangga dan mengurus Arka.

Minggu berikutnya, saya mulai mengatur strategi. Memasak makanan yang mudah untuk sarapan, bahkan kalau memungkinkan menghangatkan semangkuk sup masakan kemarin untuk sarapan sah-sah saja. Saya mensiasati peralatan dapur dan menggunakan nampan atau baskom-baskom besar agar bahan makanan tidak mengotori seluruh dapur. Saya juga mengganti rasa bersalah ketika tertidur di siang hari dengan menikmati tidur siang bersama anak. Selain Arka bisa tidur lebih lama, saya pun dapat tenang beristirahat. Sebagai gantinya, saya bisa menulis ketika Arka tidur di malam hari, yang relative lebih jarang terbangun – yang berarti juga bahwa saya dapat lebih berkonsentrasi menulis-, dan tentu saja saya dapat menemani suami makan malam dan mengobrol sambil menunggu waktu tidur.

Di luar itu, saya menyadari Arka semakin mandiri. Di usia dua tahun 9 bulan, Arka sudah fasih memakai kaus kaki dan sepatunya sendiri. Memakai dan melepas celananya, termasuk melepas pampersnya. Bahkan, di sebagian besar waktu makannya, Arka sudah mampu makan sendiri, dengan tangan ataupun dengan sendok. Memang untuk urusan makan, ia masih harus diperhatikan, tidak saja untuk kerapihannya, tapi juga untuk memastikan apakah makanannya sudah lengkap dimakannya atau tidak (kadang-kadang, ia hanya senang memakan nasinya saja. Karena nasinyalah yang dapat ia kepalkan dengan tangan). Selain itu ia sudah dapat minum sendiri, mau belajar mandi sendiri (membasuh tubuh dengan gayung, menyabuni badan tangan dan kakinya), dan terutama, mengembangkan kemampuan yang sangat baik dalam bermain sendiri! Untuk hal yang terakhir ini, kadang saya memang kasihan melihatnya. Tapi, saya rasa, kebutuhannya untuk bersosialisasi sudah cukup terpenuhi dengan sekolah 3x seminggu dan berkumpul dengan sepupu-sepupunya kala weekend.

Bagi saya sendiri, saya sangat menikmati kondisi saya sekarang. Kedekatan saya dengan Arka jelas semakin akrab terjalin. Kemana-mana, bisa dipastikan kami selalu berdua. Memang, dengan bepergian bersama Arka, persiapan saya ketika akan pergi, tak lagi sesederhana dan secepat jika tidak bersamanya. Paling tidak saya harus menyiapkan baju dan pampers untuk ganti serta botol susu, susu dengan termosnya. Bahkan untuk pergi ke pertokoan terdekat, saya tak berani pergi tanpa perlengkapan tersebut. Awalnya, saya agak terganggu juga. Karena saya terbiasa pergi tanpa persiapan apa-apa, yang penting dompet dan HP saya terbawa. Tapi lalu saya berpikir, apa sih yang salah dengan membawa persiapan tersebut ? Apa ruginya slow down ? Apa masalahnya ketika saya harus menyusun rute kepergian saya demi menyesuaikan dengan jadwal makan dan tidur Arka ? Agar jangan sampai Arka sudah harus makan, sementara kami berada di jalan raya dan tidak membawa bekal. Atau Arka terkantuk-kantuk sementara kami sedang berada di pertokoan.

Akhirnya, saya malah menikmati keberduaan saya dan Arka. Menyiapkan perbekalan, mengatur jadwal, bahkan mengawasi atau menyuapi Arka sendiri-karena tidak ada asisten yang membantu-ketika saya janji bertemu teman di restoran tidak menjadi masalah untuk saya. Saya juga sering secara kreatif mengarang berbagai permainan yang mengandung unsur edukatif dan tentu saja, agar Arka (dan saya sebagai teman bermainnya) tidak bosan.

Namun, sesekali, saya juga tidak “mengharamkan” menonton film anak-anak pilihan Arka. Terutama ketika saya merasa kurang fit untuk melakukan permainan berat (berlari, mengejar bola, dan permainan lain yang menguras energi fisik). Demikian pula dengan makanan. Hampir selalu saya membuatkan makanan empat sehat lima sempurna untuknya. Tapi, sesekali, saya pun merelakan nugget masuk ke dalam perutnya! Saya juga masih menjaga kebersihan secara ketat. Tapi, kini saya tak lagi cepat-cepat mengambil sapu dan mengepel lantai ketika Arka makan sendiri, dan makanannya berserakan di lantai. Saya lebih santai dengan menunggu acara makan selesai dan membereskannya setelah kami akan berganti ke kegiatan lain.

Saya menyadari, saya banyak berubah sekarang. Saya tak lagi perfectionis freak, tapi saya menjadi wanita, istri dan ibu yang cinta kebersihan, senang hidup sehat, kreatif, dan jelas menikmati waktu sebagai ibu dan istri. Prinsip saya sekarang, take your time, enjoy your life. Sungguh, saya menikmati kehidupan saya sekarang!_

3 Comments:

At 10:28 AM, Blogger NiLA Obsidian said...

god job dian!!!!

kebayang banget di benak gw...ini emang keseharian yg elo bgt...
semua butuh proses kan utk pencapaian sebuah kondisi *kedewasaan dan kebijaksanaan* utk menyikapi sesuatu terutama utk membentuk kepribadian diri sendiri....menjadi seseorang yg lebih baik lagi......

luv u n arka

 
At 11:04 AM, Anonymous Anonymous said...

absolutely...give time to yourself, enjoy every moment in life. yg pasti, kbahagian ibu adl kbahagiaan kluarga. klo ibunya gak bahagia hanya krn hal2 sepele yg tdk memenuhi kriteria yg digariskan si ibu...bs dipastikan kluarga gak kan bahagia.

 
At 12:04 AM, Blogger Mikael Dewabrata said...

kan perfectionist bisa diganti pake perfeksionis .. lebih endonesa

 

Post a Comment

<< Home