Monday, November 20, 2006
Ayahbunda no 23, 16-29 Nov 2006

Alhamdullillah…
Tulisanku dimuat lagi… hal 98, Renungan.

Isinya sbb :

Saya termasuk yang over protected pada anak. Sampai anak saya, Arka, usia 1 tahun 5 bulan, dia belum pernah jatuh. Jangankan untuk panjat memanjat yang berbahaya seperti pohon, tangga, dll. Waktu Arka belajar berjalan, saya hebohnya bukan main. Takut sekali dia jatuh atau terbentur sesuatu. Padahal, mana ada sih anak belajar jalan yang tidak melewati jatuh ? Jadi, ketika Arka belajar berjalan, saya ketat mengawasi dan mengamankan benda-benda yang sekiranya dapat berbahaya bagi Arka.
Masalah mulai timbul ketika Arka bermain dengan sepupu-sepupunya di rumah ibu saya. Waktu itu, Arka dan saudara-saudaranya berkumpul di kamar ibu saya dan bermain di sana. Saya dan kakak-kakak saya asyik berbincang di ruang keluarga karena merasa anak-anak aman dijaga eyangnya. Ketika sekian waktu kemudian saya masuk ke kamar, wah, anak saya sedang memanjat tempat tidur (yang kira-kira setinggi dadanya) dilanjutkan dengan sedikit melompat-lompat di tempat tidur (dengan kiri dan bagian kepala tempat tidur adalah tembok tanpa penghalang bantal atau guling atau apapun), kemudian memanjat sofa bed, dan diakhiri dengan sedikit lompatan lagi untuk mencapai lantai. Reaksi pertama saya , teriak, kedua, meluncurkan sederet peringatan. Ibu saya tertawa. Kata beliau, saya harus lebih rileks, karena toh anak saya mampu melakukan itu semua. Dia mengalami apa yang disebut proses belajar. Arka melihat sepupu-sepupunya yang berusia 5, 4 dan 1 tahun lebih besar darinya melakukan hal tersebut. Dia mengamati, mencoba (trial dan error), kemudian memahami dan melaksanakannya dengan baik. Dan toh biar bagaimanapun, Ibu saya (dan para pengasuh) tetap mengawasi mereka. Saya mengamati beberapa waktu. Dan memang ucapan ibu saya terbukti.
Sayapun kemudian menyadari bahwa melindungi anak adalah baik dan sudah seharusnya. Tapi harus diimbangi dengan adanya kepercayaan pada si anak untuk dapat mempelajari hal-hal baru dan melakukan sesuatu sendiri. Tugas kitalah mengajari sesuatu hingga ia menguasai secara benar. Sejak saat itu, saya menjadi lebih santai dalam mengasuh Arka. Terutama tidak terlalu panik jika ia sedikit jatuh atau tebentur. Benar juga pendapat teman saya, “Di, apa bukannya malah aneh ada anak kok ga’ pernah jatuh”, hehehe.

2 Comments:

At 12:55 PM, Anonymous Anonymous said...

heheheh
Pasti si baru anak satu ya ..
Aku sendiri juga begitu , bener2 cepet panik , semua mainan anakku aku rebus karena takut bakteri ...sampe di ketawain ibu mertua ...tp semakin lama , ahkirnya berkurang dgn sendirinya ........

itu bukan lukisanku sendiri bikinan seniman waktu di luxemburg , lukisanku beberapa aku pasang di http://fscmsk6.multiply.com/

 
At 8:14 AM, Blogger Innuendo said...

aku juga over protected ama ponakan. takut banget dia jatuh or luka or gegar otak. and sedih euy waktu ponakanku manjat jendela then terjun bebas. patah tangannya...

 

Post a Comment

<< Home